KEBANGKITAN NASIONAL DI ERA MILENIAL

Sejarah mencatat bahwa Kebangkitan nasional merupakan wujud utama bangkitnya kesadaran akan pendidikan yang akan memudahkan bangsa Indonesia menuju persatuan. Cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam lirik lagu Indonesia Raya “Indonesia Kebangsaanku Bangsa Dan Tanah Airku, Marilah Kita Berseru Indonesia Bersatu” dalam lirik tersebut tercantum tujuan bangsa Indonesia hanya satu yakni persatuan bangsa

Pada tahun 1908, tercetus sebuah organisasi yang menjadi pelopor bangkitnya para pemuda yang terbentuk dalam sebuah organisasi pemuda bernama “Budi Utomo”. Makna dari nama budi utomo yakni budi yang luhur karena memang luhur cita-citanya.[1] Persatuan yang diperjuangkan oleh para pemuda kala itu dalam masa kekuasaan belanda yang dengan mudahnya mengadu domba masyarakat dan mengadakan kebijakan yang membuat masyarakat menderita dan tidak memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan.

Melalui organisasi Budi Utomo yang terlahir pada tanggal 20 Mei 1908, para pemuda yang dipelopori oleh sutomo yakni salah seorang siswa sekolah dokter jawa (STOVIA). Sutomo dan teman-temannya berusaha mengajar rakyat membaca dan menulis. Ia mencari kekuatan didalam dirinya sendiri, selanjutnya, Tuhan membantunya karena ia bermaksud baik. Ia yakin bahwa sumber kesejahteraan rakyat adalah dengan pendidikan.

Dalam buku kesadaran nasional yang di susun oleh prof. dr slamet muljana, beliau menyampaikan bahwa, nasib bangsa hanya bisa diperbaiki oleh bangsa itu sendiri. Perbaikan tidak dating dari pihak lain. Orang lain yang melihat dari kenistaan dan kemelaratan rakyat justru melemparkan kehinaan. Kebahagiaan bangsa harus dibuat oleh bangsa itu sendiri; kebesarannya harus tumbuh dari hati sanubarinya sendiri.

Senada dengan pesan yang tertuang dalam sambutan peringatan hari kebangkitan nasional yang disampaikan oleh Menteri Perhubungan, bapak rudiantara dengan tema Bangkit Untuk Bersatu yang diantaranya berisi tentang makna persatuan bangsa yang beliau ambil dari pesan gajah mada dalam sumpah palapa. Jika kebangkitan nasional 111 tahun yang lalu dipelopori oleh para pemuda sekolah dokter jawa (STOVIA) maka kebangkitan nasional di era milenial harus bisa dipelopori oleh para pemuda dengan segala dukungan dan kemudahan yang dimiliki saat ini.

Di era revolusi 4.0 saat ini, para pemuda memiliki kesempatan yang sangat luas untuk menjadi pelopor di Negaranya sendiri. pelopor untuk mempersatukan bangsa yang saat ini dihadapkan oleh kemajemukan dan dikaruniai perbedaan. Kemudahan mencari dan memperoleh informasi melalui teknologi menjadi salah satu jalan bagi para pemuda milenial untuk membawa perubahan menuju indonesia yang lebih baik.

 

               

[1] Kesadaran Nasiona dari kolonialisme sampai kemerdekaan, Prof. Dr. Slamet Muljana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *